TUHAN MEMEGANG TANGAN KU

TUHAN MEMEGANG TANGAN KU
Dalam kelemahan kita ada tangan Tuhan yang memegang. Jangan takut untuk melangkah karena Dia akan memberikan kita kekuatan.

Tuesday, June 10, 2008

YUNUS, PELAYAN YANG MELARIKAN DIRI

oleh: Pdt. Yohan Candawasa, S.Th.



Bacaan Alkitab: Yunus 1:1-4



Yunus adalah seorang nabi Tuhan yang kehidupannya penuh dengan ketidakkonsistenan. Walaupun demikian, Tuhan tetap mengasihi dan memakai nabi ini. Hal ini merupakan anugerah Tuhan dan sebenarnya.


Yunus merupakan wakil dari kita, orang-orang Kristen di dunia modern sekarang ini. Seperti Tuhan yang masih mau memakai Yunus, demikian pula Tuhan masih mau memakai kita, sekalipun seringkali kita tidak layak untuk dipakai oleh Tuhan.

Sedikitnya ada tiga ketidakkonsistenan pada diri Yunus, antara lain:
1. Ketidakkonsistenan antara Nama dan Orang
Nama Yunus berarti "merpati.” Biasanya di dalam Alkitab, merpati merupakan lambang dari hal-hal yang baik. Pertama kali kata merpati muncul dalam kisah Nuh, yang melambangkan tanggung jawab, dapat dipercaya dan setia pada tugas. Hingga sekarang, lambang merpati dengan daun zaitun telah dipakai oleh PBB sebagai lambang perdamaian dunia. Di dalam Perjanjian Lama, merpati juga digunakan sebagai korban bakaran bagi Tuhan (Imamat 1:14-17).

Di dalam Perjanjian Baru, merpati muncul saat Tuhan Yesus mengutus murid-muridnya dan berkata, “Lihat Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala. Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti burung merpati.” Artinya, murid-murid harus memakai seluruh kemampuan otaknya untuk mengatasi kerasnya kehidupan di ladang pelayanan. Tetapi ini bukan segala-galanya, Yesus juga memberi pagar pembatas, rambu-rambu, bagaimana kecerdikan tersebut harus dipakai. Ia tambahkan petunjuk di atas dengan .”...dan tulus seperti merpati.” Di sini merpati merupakan simbol ketulusan. Ketulusan menjaga murid-murid dalam memakai kecerdikannya hanya sampai pada “seperti ular” dan “tidak berubah menjadi ular itu sendiri” (Matius 10:1-16).

Terakhir dan terbesar merpati muncul ketika Tuhan Yesus, Sang Mesias menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis. Alkitab mencatat, “...Langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun keatasNya.” Sampai hari ini gereja terus memakai merpati sebagai lambang Roh Kudus.

Tidaklah salah kalau kita menyimpulkan bahwa merpati merupakan kumpulan
berbagai kebajikan. Sedangkan Yunus, ketika ia disuruh pergi ke Niniwe, ia malah berangkat ke Tarsis. Yunus tidak bertanggung jawab. Ia tidak dapat dipercaya dan dia bukanlah orang yang setia. Jikalau Yunus dijadikan lambang perdamaian, bahkan tanda kehadiran Allah, maka harapan kita kehadirannya seharusnya sama seperti kehadiran Yusuf di rumah Potifar.
Kehadiran yang membawa berkat (Kejadian 39:5). Tetapi Yunus sebaliknya, kehadirannya sama seperti kehadiran seekor gagak, lambang kesialan, malapetaka dan kematian. Kehadiran Yunus membawa malapetaka bagi lingkungannya. Jelas alasan mengapa orang-orang di kapal harus menerima amukan badai dan kehilangan barang-barang mereka karena harus dibuang
ke laut. Semuanya karena kehadiran Yunus, burung merpati yang salah alamat.

Bagi orang Yahudi nama sangatlah penting. Nama sama dengan orangnya. Tetapi Yunus, nama dan orangnya sangat jauh berbeda. Seharusnya ia lebih cocok diberi nama “gagak hitam jelek.” Ketidakkonsistenan Yunus ternyata belum selesai di sini, masih ada lagi, bahkan lebih jelek dari dari sebelumnya, yaitu


2. Ketidakkonsistenan antara Jabatan dan Fungsinya sebagai Nabi
Nabi adalah kata benda, berasal dari kata kerja “naba”, yang artinya “berbicara bagi Tuhan.” Nabi adalah orang yang berbicara bagi Tuhan. Sebagai orang yang dipanggil menjadi Nabi, Yunus seharusnya beruntung karena dialah misionari pertama yang diutus oleh Tuhan kepada bangsa kafir (orang Niniwe). Sebagai penyambung lidah Tuhan, sudah seharusnya ia mengenal dengan baik suara Tuhan. Sebagai seorang Nabi bagi bangsa kafir, seharusnya ia mempunyai hati yang serupa dengan hati Allah, yang rindu agar orang berdosa berbalik kepada Allah, sama seperti Bapa Surgawi yang bersukacita waktu menerima kembali anak yang hilang.

Tetapi yang terjadi pada Yunus sangat mengejutkan. Dipanggil Tuhan menjadi misionari bukannya taat tapi malah melarikan diri. Saat orang-orang Niniwe bertobat, bukannya bersukacita malah marah, bahkan sampai minta mati (Yunus 4:1-3). Yunus sama seperti anak sulung, yang marah ketika Sang Bapa menyambut dengan gembira kepulangan si anak hilang.

Yunus sangat jengkel melihat Tuhan begitu murah hati, mau mengampuni penduduk Niniwe yang terkenal sangat jahat, kejam dan sadis. Sejarah mencatat, serdadu Niniwe adalah orang terkejam dan tersadis pada zamannya. Mereka suka membunuh dengan memasukkan tangan ke dalam mulut korban, kemudian memelintir keluar lidah si korban. Atau mencopot tangan dan kaki mereka, hidung atau telinga dan mereka juga suka mengikat orang dan direntangkan, kemudian dengan pisau yang sangat tajam menguliti inchi demi inchi sampai seluruh kulit habis dan membiarkan si korban tetap hidup. Sementara kulitnya dibuang begitu saja atau dijadikan wallpaper tembok kota. Piramida kepala manusia merupakan jejak kaki di
daerah-daerah yang mereka taklukkan, sedangkan wanita dan anak-anak ditawan dan dijadikan budak (Wilmington's Guide to the Bible, hlm. 1720-1730)

Maka ketika mereka bertobat dan Allah menerima mereka, Yunus tidak bisa terima. Sebegitu mudah dan murahnya-kah dosa orang orang Niniwe, sehingga bisa selesai hanya dengan bertobat? Allah begitu saja mengampuninya dan tanpa menghukum sedikit pun. Dipikirnya, “Enak betul mereka....” Jika pikiran ini timbul dalam diri kita masih bisa dimaklumi, karena kita bukan nabi. Tapi jika itu muncul dalam pikiran seorang Nabi, Nabi macam apakah itu? Bukannya bersukacita, tapi sebaliknya malah marah, jengkel, bahkan sampai minta mati.


3. Ketidakkonsistenan antara Theologi dan Kehidupan Nyata
John Leith menulis, "Iman seseorang dituangkan dalam karya-karya theologis, terstruktur di dalam organisasi dan dinyatakan di dalam ibadah. Hal ini juga diwujudkan dalam gaya dan cara hidup. Kenyataannya, gaya hidup selalu bertentangan dengan keyakinan-keyakinan dasar theologis dan etika." Jika perhatikan dari Yunus 1:9 dan Yunus 1:5, maka kita mengetahui bahwa Yunus mengenal Allah yang benar, Allah pencipta, pemilik dan penguasa atas langit dan bumi. Yunus memiliki agama dan theologi yang tulen. Sedangkan orang-orang di kapal jelas pemeluk polytheisme. Mereka memiliki allah yang berbeda dan tentu saja theologinya kacau. Tetapi bagaimana praktek mereka dalam kehidupan nyata? Sangat kontras dengan Yunus. Ketika badai melanda, yang ber-allah salah giat berdoa, sementara yang ber-Allah benar malah tidur. Yang beragama ngawur bekerja keras, berusaha mengosongkan kapal, tapi yang beragama benar asyik bersantai. Yunus yang mengenal Allah
yang maha kuasa tidak mendorong orang berdoa, sebaliknya orang kafirlah yang mengingatkan dan mendorong dia untuk berdoa (ayat 6). Yang lebih luar biasa lagi adalah ketika orang kafir ini mengetahui bahwa penyebab malapetaka ini adalah Yunus (1:11-12), mereka bukannya marah dan membuang Yunus ke laut, tapi masih berusaha sekuat tenaga membawa kapal itu kembali ke darat (ayat 13). Mereka tidak memikirkan keselamatan mereka sendiri, tapi mereka malah peduli terhadap Yunus yang sebenarnya biang kerok dari malapetaka itu.Hal ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi Yunus. Dia tidak rela pergi demi keselamatan 120.000 orang Niniwe, sebaliknya orang kafir rela berjuang dan berkorban mati-matian demi menyelamatkan 1 orang Yunus. Dengan demikian kita melihat, theologi yang benar, agama yang benar, tidak menjamin selalu menghasilkan kehidupan yang baik di kehidupan nyata.


Pelayanan Merupakan Anugerah Allah
Sesungguhnya Yunus sama sekali tidak memenuhi syarat untuk jabatan Nabi.
Ia tidak mempunyai kualifikasi apa pun untuk menjadi misionari. Kenyataan ini membawa kita pada kesadaran bahwa pelayanan adalah anugerah Allah. Yunus dipilih, dipanggil dan dipercayai dalam pelayanan bukan karena ia memenuhi syarat, bukan karena ia telah lolos saringan ujian masuk sehingga diterima menjadi Nabi Allah. Panggilan dan pelayanan Yunus
adalah ANUGERAH TUHAN semata.

Jika kita merasa kita sudah berkorban banyak untuk melayani Tuhan, bukan kita yang sudah berkorban demi melayani pekerjaan Tuhan, justru Allah-lah yang sudah mengorbankan pekerjaanNya untuk dipercayakan kepada kita.

Betapa riskannya pekerjaan Tuhan yang agung itu, yang bisa dikerjakan sendiri
oleh Tuhan dengan sempurna, tapi Ia percayakan kepada kita, orang yang lemah, tidak setia, picik dan sempit pikirannya.


Pelayanan dan Pembentukan Rohani
Anugerah Tuhan tidak sekedar memanggil Yunus melayani, tetapi di dalam pelayanan itu Tuhan tidak putus-putusnya membentuk Yunus menjadi pelayan seperti yang dikehendakiNya. Anugerah Tuhan selalu merupakan “transforming grace”, anugerah yang mengubah hidup penerimanya. Tanpa hal ini, anugerah Allah adalah anugerah yang merusak, karena kita akan merasa sejelek apa pun kita, toh Allah akan tetap memakai kita.

Dalam pelayanan selalu ada 2 hal yang dinyatakan kepada kita, pertama adalah karunia pelayanan yang kita miliki. Kedua adalah sifat, karakter serta kelemahan-kelemahan kita. Dengan demikian pelayanan selalu merupakan kesempatan bagi Tuhan untuk memoles kita, “mengguntingi” hal-hal buruk yang kita miliki.

Jika kita perhatikan Kitab Yunus dari pasal 1-4:
1. Pasal 1 – mulut Yunus berkata “YA,” tetapi kakinya melarikan diri
2. Pasal 2 – Tuhan membentuk Yunus di dalam perut ikan
3. Pasal 3 – Tuhan kembali mempercayakan pelayanan ke Niniwe kepada Yunus, dan hasilnya Niniwe bertobat!
4. Pasal 4 – Tuhan membentuk Yunus kembali, yang saat itu marah kepada Tuhan karena pertobatan Niniwe. Tuhan memakai sebatang pohon jarak untuk mengajarkan Yunus. Jika pohon jarak saja yang tidak pernah Yunus tanam (dengan berjerih payah) begitu disayangi oleh Yunus, apalagi orang-orang Niniwe, yang diciptakan sendiri oleh TUHAN (ayat 10-11). Di sini Tuhan mengajarkan Yunus tentang cinta kasih.

Terhadap Yunus yang hatinya memberontak dan penuh kekesalan, Tuhan tidak membuangnya, sebaliknya dengan penuh kesabaran membentuknya dari waktu ke waktu. Sebenarnya tidak ada kesulitan bagi Tuhan untuk mengganti Yunus dengan orang lain. Tetapi Tuhan tetap memakai dia dan terus membentuknya. Pelayanan selalu membawa kita masuk ke dalam proses pembentukan. Yang harus diwaspadai adalah saat kita membiarkan diri dibentuk oleh pengalaman, bukan menyerahkan diri untuk dibentuk oleh Tuhan.



Pelayanan dan Ketaatan
Dari pasal 1:5-16, kita melihat adanya perubahan dalam diri orang-orang kafir di kapal Yunus, yaitu dari mengenal Tuhan yang salah menjadi mengenal Tuhan yang benar. Yunus mungkin bisa berbangga karena ketidaktaatannya, maka orang kafir dapat mengenal Allah yang benar. Tetapi semua itu bisa terjadi karena kedaulatan mutlak dan keMaha-Kuasaan Allah, memakai cara apa pun, baik ketaatan maupun ketidaktaatan kita, untuk menggenapi
rencana dan kehendak-Nya.

Betapa ruginya Yunus, dia dipakai oleh Allah tetapi itu tidak diperhitungkan sebagai hasil pelayanannya, karena karya-karya besar itu dihasilkan Allah dari ketidaktaatan Yunus. Tuhan tidak pernah bergantung pada ketaatan atau ketidaktaatan seseorang untuk melaksanakan rencana dan kehendak-Nya. Baik taat maupun tidak taat, keduanya bisa Tuhan pakai. Perbedaannya adalah kita dipakai dalam kerelaan atau ketidak-relaan, dalam ketaatan atau pemberontakan kita? Jika Tuhan memakai kita dalam ketidaktaatan kita, maka hasil pelayanan sebesar dan seagung apa pun bukanlah sesuatu yang dapat kita banggakan, sebaliknya kitalah yang rugi. Lebih baik kita memilih Tuhan memakai kita dalam ketaatan, karena hasil sekecil dan sehina apa pun, Tuhan akan mendapatkan pujianNya, “Engkau
hamba-Ku yang setia.”

Bagaimanakah sikap kita di dalam pelayanan/terhadap pelayanan yang dipercayakan kepada kita?

Pdt. Yohan Candawasa:

No comments:

Langganan GP Magazine

Langganan GP Magazine
Anda ingin mendapatkan info terbaru tentang banyak hal? Berlanggananlah GP Magazine. SMS saja ke 085214282522

FROM US

Satu hal yang perlu kita ingat sebagai orang percaya adalah :
" Bagi Allah tidak ada yang mustahil "
(Lukas 1 : 37)

Jika kita sebagai orang percaya angkat tangan, disitu Allah pasti turun tangan. (david)

Persoalan - persoalan yang kita hadapi tidak akan pernah melebihi kekuatan kita, karena bagi setiap orang percaya yang lemah, letih, lesu dan berbeban berat akan diberikan keringanan, karena kuk yang Allah pasang enak dan ringan. (david)

Allah akan membawa kita kepadang yang berumput hijau dan akan memberi kita minum di tepi aliran sungai, tongkat dan gadaNya yang memberi kita kekuatan. (david)

KONSELING Bersama Pdt Jarot Wijanarko

Pertanyaan Pembaca: Majalah GP Edisi 15 Juni 2008


Saya ibu rumah tangga yang punya anak 3 dan telah ditinggal suami 9 tahun, tanpa nafkah lahir batin, sementara suami keluyuran ganti-ganti pasangan. Bahkan setelah punya anak di luar, suami juga tidak mau menikah resmi. Dalam penantian saya pada tahun ke 3, saya tidak dapat menahan, saya bertemu dengan lelaki yang sudah cerai, hingga sekarang saya berusaha untuk meninggalkan lelaki itu, tetapi rasanya tidak bisa, karena saya merasa kesepian. Hubungan kami telah 6 tahun tapi belum nikah, bagaimana solusinya?


Kalau suami belum menikah resmi, bahkan tidak mau menikah resmi, sebenarnya itu peluang untuk pulih dengan suami. Rebut hati suami, supaya ia mau kembali. Pemulihan itulah kehendak TUHAN.



Bagaimana cara merebut hati suami?. Ibu perlu tahu, kira-kira kengapa suami sampai keluyuran keluar dan meninggalkan rumah? Jangan tidak mau tahu, jangan mengeraskan hati dan berkata; “Mana saya tahu, itu urusannya dia” coba renungkan dan benar-benar mulai arahkan jalan hidup ini ke arah pemulihan, karena itulah kehendak Tuhan. Kalau ibu ada kesalahan, minta maaf. Kalau selama ini bawel atau cerewet, belajar untuk berubah dan menjadi lemah lembut. Kalau suami hatinya condong ke perempuan lain, karena perempuan lain sexnya menggairahkan, sementara ibu pasif, belajarlah untuk melakukan hubungan sex dengan menggairahkan. Itu semua tidak mungkin bisa jika cinta telah padam dan digantikan kecewa, kepahitan, kesal, dendam karena mungkin saja kelakuan suami yang keterlaluan.

Lepaskan pengampunan, ingat kembali masa-masa pacaran, ingat hal-hal yang baik dan positif dari suami dan kobarkan kembali cinta mula-mula. Mulai kontak dan hubungi dia dan mintalah dia kembali. Lakukan doa puasa sebelum memulai semuanya, pinta Roh Kudus dan Tuhan campur tangan. Jika dari pihak ibu mau pulih, Tuhan jawab doa, jika kehendaknya sendiri sudah maunya bubar, cerai dan menikah lagi dengan lelaki baru, Tuhan lepas tangan dan tidak menjawab doa, karena perceraian dibenci Tuhan dan bagi wanita, menikah lagi setelah bercerai adalah perzinahan (Matius 5:32).

Menjalin hubungan dengan lelaki lain, adalah perzinahan, putuskan hubungan tersebut, walau rasa-rasanya berat, tetapi ibu perlu belajar mengambil keputusan dan hidup kudus. Tanpa kekudusan, tidak akan ada pemulihan dan juga suami tidak akan kembali. Sarankan ke lelaki yang telah bercerai tersebut juga untuk kembali ke isterinya, karena jika ia menikah lagi, itu juga perzinahan (Matius 19:9).

Matius 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.

Matius 19:9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."




Pertanyaan:

Doa spt apa yg harus sy panjatkan kpd Tuhan, pada saat badai menghadang rumah tangga saya? Saya menikah dengan suami yang Muslim. Sekarang Suami saya mengajukan talak satu dan saya menolaknya, karena TUHAN kita membenci perceraian. Terkadang saya yakin sekali, TUHAN akan memulihkan rumah tangga saya kembali, tapi kadang saya ragu, apa mugkin? Tolong saya,apa yang harus saya lakukan? Saya benar-benar binggung.


GP: (Jawaban Oleh Pdt Jarot Wijanarko)


Jawaban:
asangan Tidak Seiman. Sebelum berdoa, pelajari dahulu prinsip berikut ini, sehingga kita akan berdoa sesuai hati dan kehendak TUHAN.
1 Korintus 7:12 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.
7:13 Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.
7:14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.
7:15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
7:16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan me
nyelamatkan isterimu?
Dari ayat diatas, dengan jelas, inisiatif cerai, jika pasangan bukan seiman, tidak boleh datang dari pihak orang percaya. Sikap orang percaya, justru kalau dia bertobat sungguh-sungguh dan memiliki kepastian keselamatan maka seharusnya dia mengajak orang-orang yang dicintainya ke Sorga. Sikap orang percaya haruslah seperti ayat 16, menyelamatkan pasangannya.
Di Korintus, juga di gereja mula-mula, konteks perikop tersebut adalah; dua orang tidak percaya (Agama Yahudi), sudah menikah dan salah satu kemudian menjadi percaya, maka kondisi menjadi ‘salah satu tidak percaya’. Dalam kondisi ini jika karena ‘imannya’ dia diusir, dianiaya atau mau dibunuh, ditolak oleh pasangan dan keluarga besarnya, karena dalam kelompok tertentu menjadi suku tertentu berarti agama tertentu, menjadi ‘kristen’ akan mengalami pengusiran. Dalam kasus seperti ini, Paulus berkata ‘engkau boleh bercerai’
1 Korintus 7: 27 Janganlah engkau mengusahakan perceraian!
Paulus tetap menekankan, kita bukan orang yang mengupayakan bercerai. Bagi kita, seharusnya yang kita upa
yakan adalah pemulihan, pendamaian, rujuk kembali, menyelamatkan anggota keluarga yang belum ‘memperoleh keselamatan’. Yang harus dilakukan orang percaya adalah ‘melepaskan pe
ngampunan’, dan bukan mengupayakan perceraian!
1 Korintus 7:26 Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya.
1 Korintus 7 ditulis, karena kondisi darurat, dimana terjadi pengani
ayaan yang hebat terhadap orang-orang percaya (Kristen) oleh orang Yahudi. Mereka diusir, dianiaya, diintimidasi untuk kembali menjadi agama Yahudi, jika tidak mau mereka diceraikan, bahkan beberapa orang dibunuh.
Paulus memberikan izin atau perke
cualian, mereka boleh bercerai, kalau kasusnya DICERAIKAN dan itu terjadi KARENA IMANNYA, bukan karena hal-hal lain yang menjadi faktor utama dan kebetulan memang berbeda iman. Tidak boleh justru yang ‘percaya’ yang meminta cerai, apalagi kalau sebe narnya bukan karena soal ‘iman’, tetapi karena pertengkaran, ketidak cocokan. Bahkan ada yang memang ketika berpacaran, menikah sudah beda iman, dulu mencintai dan sekarang tidak cinta lagi dan menggunakan alasan beda iman untuk minta ijin cerai, hal ini tidak diperbolehkan.
Beberapa tahun lalu di Indonesia memang masih memungkinkan menikah beda agama, saat ini, Undang Undang Pernikahan Indonesia melarang pernikahan beda agama. Firman Tuhan juga melarang menikah dengan ‘bukan orang percaya’ = 2 Korintus 6. Ayat ini untuk yang belum menikah, bukan untuk yang mau bercerai.
2 Korintus 6: 14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
Tidak boleh menceraikan pasangan yang tidak seiman, justru harus memenangkan dan me
nyelamatkan pasangan. Tidak boleh ‘mengusahakan’ perceraian. Termasuk cari gara-gara supaya diceraikan.
Banyak orang memiliki hati yang licik dan jahat. Karena pasangannya tidak seiman, ketika sudah tidak cinta lagi, karena hal-hal yang lain yang bukan soal iman, misal soal perbedaan, atau pertengkaran, maka benar-benar mencari gara-gara supaya diceraikan. Setelah bercerai lalu konseling, minta diberkati pernikahannya yang baru, dengan seorang anak Tuhan, dengan alasan pernikahan yang dulu bukan dengan orang percaya. Hai orang jahat... engkau tidak akan luput dari hukuman Allah yang menyelidiki hati nurani!
Karena itu, saran saya untuk kasus diatas, berdoa dan terus berdoa, mempertahankan pernikahan. Kenapa suami mengajukan talak 1, tidak mungkin tanpa sebab. Jika karena sering bertengar, bertobatlah, mohon maaf, berubahlah lebih lemah lembut. Jika suami keberatan engkau sering ke luar rumah atau kegiatan gereja, kurangi, engkau kurang romantis dan responsif dalam hal sex, perbaiki! Sekeras apapun hati suamimu, menangkanlah dengan KASIH. Selain itu, bisa juga ditambah dengan PUASA. Tidak ada yang tidak mungkin bagi TUHAN dan tidak ada yang mustahil bagi orang percaya. TUHAN MEMBUAT SEMUA INDAH PADA WAKTU-NYA.
Lebih lengkap saudara bisa membaca buku saya PERCERAIAN











Aku seorang pemudi yang berhubungan dengan seorang pria kami sudah saling mengenal selama 1 tahun. Orang tua saya mengetahui akhirnya memishkan kami. Saya disekolahkan di Jawa dan dia di luar pulau. Kami saling mencintai sayangnya dia sudah berkeluarga. Kami saling mencintai dan saya tidak bisa melupakan dia. Apalagi kami sudah berhubungan badan. Bagaimana saya bisa melupannya?

GP: Jika anda sudah menyadari itu adalah hal yang baik. Nah sekarang anda harus mulai berani melupakan dia. MIntalah Tuhan menolong agar tidak berhubungan lagi. Buang semua no tlp dan hpnya. Jika dia mencoba menghubungi jangan menerima karena ini demi masa dpean anda sendiri. Kami yakin anda bisa menghadapi ini bersama TUhan. Mintalah bantuan orang terdekat seperti hamba TUhan yang bisa menolong anda, mendoakan anda dan memberikan kekuatan dan perlindungan bagi anda. Untuk konseling lebih lanjut sms ke 085214282522. GBU




SUAMI PENCEMBURU, AKU SELINGKUH

Shalom Pak. Sy seorang anak yg kurang kasih sayang orang tua. Waktu sy masih remaja, sy jadi gadis yg sangat nakal. Dulu sy berharap, saat nanti menikah, sy akan berubah. Suatu saat sy bertemu dengan seorang pria yg baik, lalu menikah. 3 th pernikahan kami, sy masih bertahan. Ternyata suamiku orangnya sangat cemburuan, dia tidak pernah memberiku kebebasan atau kepercayaan, dia selalu mengekangku, sampai suatu saat kami berantem hebat.
Sy frustasi dan tanpa disangka teman lamaku datang, akhirnya sy SELINGKUH. Skarang sy sangat tertekan, sy nggak tahu apa yg harus aku lakukan? Apa sy harus BERCERAI dengan suamiku? Atau masih bisakah sy memperbaiki rumah tangga sy? Karena suami sy tidak tahu perselingkuhan ini. Ttp sy merasa sangat nggak layak dihadapan suami sy dan merasa menyesal. Sy ingin BERCERAI tetapi sy takut. (NN - Medan)

GP: Selingkuh bukan hanya DOSA terhadap pasangan, tetapi DOSA kepada Tuhan (2 Samuel 12:13) KEJAHATAN BESAR dihadapan Tuhan (Kejadian 39:9) dan dosa yang dianggap MENISTA Tuhan (2 Samuel 12:14). Karena itu jika merasa menyesal dan merasa tidak layak, itu artinya Tuhan masih mengasihimu, sehingga hati nuranimu masih mendengar suara-Nya. Jangan keraskan hati (Ibrani 4:7), tetapi lanjutkan penyesalan ini menjadi PERTOBATAN. PUTUSKAN hubungan dengan teman selingkuhmu, jangan memberi kesempatan untuk komunikasi, telp, sms apalagi ketemu.
Begitu besar dosa SELINGKUH ini, sehingga ketika Daud selingkuh, minta ampun dengan Tuhan, Tuhan ampuni, tetapi hukuman tetap berlangsung, anaknya kena tulah dan mati, keluarganya pecah turun temurun dan isteri-2 Daud ditiduri terang-2an di muka umum oleh Absalom.
Alternatif BERCERAI, buang jauh jauh. Jangan menyelesaikan dosa (selingkuh) dengan dosa yang lain lagi (bercerai), karena bercerai, itu dibenci Tuhan ! (Maleakhi 2:16) Kalau engkau bercerai engkau mjd orang yg dibenci Tuhan.
Minta ampun sungguh-2 seperti Daud dalam Mazmur 51. Jika kita mengaku dosa, Tuhan pasti mengampuni (1 Yoh 1:9), sekalipun dosa itu merah seperti kirmisi (Yesaya 1:18) Untuk sementara tdk perlu mengaku dengan suami. Tumbuhkan cintamu pada suamimu, bersyukurlah untuk hal-hal yang dia baik, tidak ada yang tidak bisa dipulihkan, jika kita sungguh-2 bertobat, mengisi hati denga KASIH YESUS. Bangun komunikasi yg baik dengan pasanganmu, bahkan bangkitkan gairahmu dengan suami dalam hal sex, karena itu penting bagi laki-laki. (Baca buku saya PEMULIHAN SUAMI ISTERI) Jika ada kesempatan, ajak suami berdua saja, liburan, mengunjungi tempat pacaran dulu atau ikut seminar maupun retreat yang dikhususkan untuk couples. Suami dan isteri perlu bertumbuh bersama-sama dalam pemahaman tentang pernikahan dan segala pernak-perniknya (seperti uang dalam keluarga, sex yg benar, komunikasi, penerimaan dll)
Berpikirlah positif tentang suamimu. Jika dia cemburu, anggap berarti dia mencintaimu dan ingin memilikimu 100% tanpa saingan, jika dia mengekangmu, anggap dia menjagai engkau dari kejatuhan, yg terbukti memang engkau jatuh selingkuh ketika engkau lepas kekang. Tuhan sering memakai orang2 dekat sekitar kita menjagai dan membentuk karakter kita.
Jika suamimu cukup rohani, komunikasi dan hubungan sudah amat sangat baik, pernikahan kalian sudah pulih, jika mau kesembuhan itu sempurna, engkau bisa mengaku dengan suamimu. Karena jika kita saling mengaku dosa, kita akan sembuh (Yakobus 5:16) Namun engkau harus benar-2 berhikmat waktu yang tepat untuk melakukan hal ini. Jk ternyata dengan mengakui, suamimu marah, hubungi konselor pernikahan, ikuti retreat couples berdua untuk proses pembimbingan dan konseling.








Rubrik ini terbuka untuk anda. Jika anda ingin curhat, sampaikan unek-unek, problem, permintaan dll tentang diri anda sendiri, gereja maupun tentang GP silahkan SMS saja ke 0852 142 82 522 atau email:
gpmagz@gmail.com atau kirim surat ke alamat redaksi. GBU

Pemimpin Redaksi

Pemimpin Redaksi
Hendra Kasenda

Wakil Pemimpin Redaksi

Wakil Pemimpin Redaksi
Pdt Hesky Wengkang

GP Magazine Crew

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi
Hendra Kasenda (hendra.k2000@gmail.com)


Wakil Pemimpin Redaksi
Hesky Wengkang

Redaktur Pelaksana :
David Ibrani (davidibrani@gmail.com)

Redaktur: Freddy K, Rommy R

Editor Noula

Sekretaris Redaksi Ganda

Koresponden ALex Wulur (Manado), Budi K (Medan), Herwandi (Siak-Riau), Manati Zega (Solo), Decky Lapian (Jakarta), Rommy Rorimpandey (Bogor), Yandri W (Palu)

Production & Distribution Manager Jemmy

Penyantun Timotius Kurniawan

Keuangan Noula W

Pendiri Dr John Weol MDiv, Hendra Kasenda, Novi Suratinoyo

Dewan Pakar Dr Arie Doodoh SPOG, Florence Kandou Psi, Ir Suyapto Tandyawisesa MA, Marcus Rumampuk, Wempie Kumendong SH MH, Dr Erwin Pohe MBA, Jesayas Tobing STH MDiv, Haesar Sumual MTh, Eddy Tatimu, Pdt J Keintjem
Penasehat Hukum Hanan Soeharto SH

Penasehat Dr John Weol MDiv

OFFICE MINISTRY &
BG MINISTRY /HUMAS
Leo Peleng (021) 981 158 31 - 980 62271 Denny Kaloh (021) 683 986 28, 02199478950